Schneider Electric, pemimpin global dalam teknologi energi, hari ini memaparkan kehadirannya di Climate Week NYC 2026 dengan membawa penelitian terbaru mengenai efisiensi bangunan berbasis AI, modernisasi bangunan, dan penggunaan air di pusat data, serta menghadirkan rangkaian program eksekutif dan kabar mendatang mengenai pendekatan kolaboratif untuk dekarbonisasi rantai pasok.
AI mendorong peningkatan permintaan energi, namun ketika dipadukan dengan data dan keahlian di bidang terkait, teknologi ini juga dapat membantu membuat sistem energi lebih efisien dan tangguh. Sepanjang acara, Schneider Electric akan menunjukkan bagaimana kecerdasan energi dan industri dapat membantu organisasi mengoptimalkan kapasitas, memperkuat ketahanan, dan menghasilkan peningkatan keberlanjutan yang terukur.
Energi telah menjadi keputusan di tingkat dewan direksi, dan bagi sebagian besar organisasi, tantangannya bukan lagi pada ambisi, melainkan pada pelaksanaan. Sebagai mitra teknologi energi, Schneider Electric menggabungkan kecerdasan energi dan industri dengan elektrifikasi, otomasi, serta keahlian konsultasi untuk membantu mempersempit kesenjangan waktu menuju ketersediaan daya.
Selain kapasitas dan kecepatan, pendekatan ini juga menunjukkan bagaimana keberlanjutan dapat memberikan manfaat nyata: meningkatkan efisiensi penggunaan energi, memperkuat ketahanan operasional, dan meningkatkan daya saing bisnis, sekaligus menciptakan keterampilan dan lapangan kerja yang dapat melibatkan lebih banyak pekerja dan komunitas dalam ekonomi energi baru.
“Ketahanan bukanlah sesuatu yang Anda beli sekali. Ketahanan tercipta melalui kecerdasan energi dan industri ketika keputusan yang diambil menjadi lebih baik,” ujar Pankaj Sharma, Executive Vice President, Software & Services di Schneider Electric. “Yang kami hadirkan di Climate Week NYC adalah buktinya: lapisan AI yang membebaskan kapasitas di dalam bangunan, serta sistem pendingin yang menggunakan kembali cairan yang sama tanpa membutuhkan lebih banyak pasokan. Kecerdasan energi dan industri yang diterapkan pada infrastruktur yang sudah kita miliki, dipadukan dengan kemampuan eksekusi untuk menerapkannya.”

Optimalisasi bangunan berbasis AI
Makalah putih Schneider Electric berjudul “AI for Climate: Quantifying the Energy and Carbon Impact of Building Optimization” membahas dampak penerapan AI pada sistem manajemen bangunan yang sudah ada. Analisis tersebut memperkirakan penghematan energi hingga 22% dibandingkan bangunan tanpa AI. Dari angka tersebut, sekitar 7,2% hingga 12,7% berasal dari lapisan AI, sementara penghematan biaya utilitas tahunan diperkirakan mencapai US$13.600 hingga US$49.300 per bangunan berdasarkan tarif komersial yang digunakan dalam studi.
Mengatasi hambatan modernisasi bangunan
Schneider Electric Research Institute menerbitkan “Modernizing the Built Environment”, yang mengacu pada program empat studi peer-reviewed yang dikembangkan bersama Institute for Global Sustainability di Boston University serta studi kasus yang disusun bersama Bloomberg New Economy Energy Technology Coalition.
Berdasarkan 95 hambatan yang teridentifikasi dari 880 sumber akademik dan 60 wawancara dengan praktisi, penelitian tersebut menemukan bahwa kendala utama modernisasi bangunan bukanlah teknologi, melainkan kapasitas untuk menerapkannya. Biaya tambahan retrofit berkaitan dengan keterbatasan tenaga kerja, perizinan, dan kapasitas pembiayaan, bukan biaya peralatan. Jika dibaca secara bersamaan, kedua makalah tersebut menunjukkan bahwa efisiensi sudah tersedia saat ini, sementara kesenjangan antara kemampuan bangunan dan penerapannya merupakan persoalan kelembagaan sekaligus teknis.
Mendukung pertumbuhan infrastruktur AI yang bertanggung jawab
Seiring AI mendorong peningkatan kebutuhan kapasitas pusat data, pilihan desain dapat secara signifikan mengurangi penggunaan sumber daya untuk mendukung infrastruktur tersebut. Schneider Electric hari ini menerbitkan “White Paper 220, Water Usage at AI Scale: Insights from a 100 MW Comparative Analysis”. Makalah ini menunjukkan bahwa konsumsi air di lokasi untuk sistem pendinginan sangat dipengaruhi oleh pilihan desain pusat data, termasuk teknologi pembuangan panas, arsitektur pendinginan cair, dan suhu operasional.
Dalam pemodelan pusat data berkapasitas 100 MW yang menggunakan teknologi pembuangan panas adiabatik, arsitektur AI dengan pendinginan cair yang dioptimalkan mengurangi penggunaan air tahunan di lokasi untuk pendinginan sebesar 48% di Dallas, dari sekitar 382.000 menjadi 197.000 meter kubik, serta sebesar 53% di Paris, dari sekitar 108.000 menjadi 51.000 meter kubik, dibandingkan dengan desain AI berpendingin udara.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa kapasitas AI berdensitas tinggi dapat didukung sekaligus mengurangi penggunaan air di lokasi untuk kebutuhan pendinginan secara signifikan.
Schneider Electric juga akan menyampaikan informasi lebih lanjut selama Climate Week mengenai pendekatan kolaboratif untuk dekarbonisasi rantai pasok, yang dibangun berdasarkan program Energize dan Catalyze.
Share this post
