Repsol menandatangani perjanjian untuk mengeksplorasi dan mengembangkan wilayah minyak baru di Venezuela.

Repsol telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Kementerian Hidrokarbon Venezuela dan perusahaan minyak negara Petróleos de Venezuela (PDVSA) untuk menilai potensi pengembangan wilayah baru bernama Horcón, yang terletak di tenggara Danau Maracaibo.

Perjanjian ini ditandatangani hari ini di Caracas dalam sebuah pertemuan antara CEO Repsol Josu Jon Imaz dan Direktur Eksekutif Senior Eksplorasi dan Produksi perusahaan, Francisco Gea, bersama Penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodríguez; Menteri Hidrokarbon Paula Henao; dan Presiden PDVSA Héctor Obregón.

Pertemuan tersebut juga meninjau kemajuan operasional aset Repsol di Venezuela serta investasi yang telah disepakati untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan aktivitas, termasuk mekanisme pembayaran terkait perjanjian yang sudah ada serta jadwal pengiriman minyak mentah yang direncanakan dalam beberapa bulan ke depan.

Wilayah Horcón terletak di antara ladang Barúa dan Motatán, yang sudah menjadi bagian dari portofolio aset Repsol di Venezuela, bersama ladang minyak Petroquiriquire dan Petrocarabobo, serta aset gas Cardón IV.

Melalui perjanjian ini, para pihak juga menyatakan niat untuk melanjutkan analisis peluang gas lepas pantai (offshore), dengan tujuan memperdalam studi dan data mengenai reservoir gas di wilayah perairan Venezuela.

Perjanjian ini menegaskan kembali komitmen Repsol terhadap Venezuela, di mana perusahaan tersebut telah mempertahankan operasi tanpa henti sejak 1993.

Pada Maret 2026, Repsol dan Eni menandatangani perjanjian strategis dengan otoritas Venezuela dan PDVSA untuk memastikan keberlanjutan produksi gas alam selama 2026 di aset Cardón IV—yang masing-masing dimiliki 50% oleh kedua perusahaan—serta memperkuat stabilitas jangka panjang operasional. Pada pertengahan April, Repsol juga menandatangani perjanjian lain dengan Kementerian Hidrokarbon Venezuela dan PDVSA, yang masih bergantung pada pemenuhan kondisi tertentu, yang memungkinkan perusahaan tersebut memperoleh kembali kendali operasional dan meningkatkan produksi minyak di Petroquiriquire (60% PDVSA dan 40% Repsol). Perjanjian tersebut juga bertujuan memastikan mekanisme pembayaran dan memperkuat kerangka operasional aktivitasnya di negara tersebut, dalam kerangka perjanjian induk yang pertama kali ditandatangani pada 2023.

Share this post

Loading...