Avathon hari ini mengumumkan peluncuran Autonomy for Aerospace Operations, sebuah platform terpadu berbasis AI dan pengetahuan yang menghubungkan data dari manufaktur, rantai pasok, dan pemeliharaan untuk mendorong pengambilan keputusan terkoordinasi di seluruh siklus hidup industri dirgantara.

Avathon hari ini mengumumkan peluncuran Autonomy for Aerospace Operations, sebuah platform terpadu berbasis AI dan pengetahuan yang menghubungkan data dari manufaktur, rantai pasok, dan pemeliharaan untuk mendorong pengambilan keputusan terkoordinasi di seluruh siklus hidup industri dirgantara.
Dengan mengintegrasikan wawasan dari kualitas produksi, Bill of Materials (BOM), sumber pemasok, ketersediaan suku cadang, dan kapasitas tenaga kerja, platform ini memungkinkan organisasi untuk menyinkronkan keputusan manufaktur dan logistik dengan pemeliharaan serta perbaikan pesawat yang sedang beroperasi — sehingga mengurangi kejadian Aircraft on Ground (AOG), meningkatkan throughput dan kualitas, serta memperkuat kesiapan armada.
Industri dirgantara menghadapi tekanan operasional yang semakin besar. Maskapai dan operator harus mempertahankan armada yang menua sambil melakukan perbaikan jaringan yang kompleks; OEM (Original Equipment Manufacturer) harus meningkatkan kapasitas produksi sembari mempertahankan standar kualitas yang ketat; sementara rantai pasok tertekan oleh berkurangnya sumber manufaktur dan kekurangan material (DMSMS), waktu tunggu yang panjang, serta kendala pasokan akibat faktor geopolitik atau perdagangan.
Di saat yang sama, kekurangan teknisi dan meningkatnya jumlah pensiunan menciptakan kesenjangan kritis di tim pemeliharaan, yang mengancam kepatuhan jadwal dan ketersediaan aset.
Tekanan ini semakin diperparah oleh ketidaksesuaian antara siklus hidup pesawat dan siklus hidup komponennya, yang memerlukan perancangan ulang suku cadang secara berkelanjutan, penempatan strategis, dan orkestrasi rantai pasok. Dengan lebih dari 700.000 teknisi pemeliharaan baru yang diperkirakan akan dibutuhkan secara global pada tahun 2043 — dan AS kekurangan 50.000 teknisi hanya dalam dua tahun ke depan — sementara komponen memiliki masa pakai hanya 5–10 tahun, organisasi dirgantara harus mengadopsi operasi cerdas dan otonom untuk mempertahankan efisiensi produksi, kesiapan armada, dan keandalan jaringan.
Platform Autonomy Avathon telah diterapkan di beberapa organisasi dirgantara terkemuka dunia. Kolaborasi ini memastikan solusi Avathon dapat menjawab tantangan operasional nyata yang dihadapi OEM, MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul), serta operator transportasi udara.
“Sektor dirgantara sedang menyeimbangkan antara permintaan yang luar biasa dengan kendala yang luar biasa pula,”
ujar Beckett Jackson, Anggota Dewan Avathon dan Mitra di AE Industrial Partners.
“Sebagai investor, kami melihat peluang besar bagi AI untuk mengubah cara industri ini mengelola kompleksitas. Pendekatan Avathon menonjol karena tidak hanya memberikan wawasan atau otomatisasi sempit — tetapi mampu menalar di seluruh rantai manufaktur, pemeliharaan, dan pasokan dengan cara yang meningkatkan efisiensi dan ketahanan seiring waktu.”
Platform Autonomy Avathon mengubah data terpisah dari proses manufaktur, pasokan, dan operasi layanan menjadi pengetahuan yang dapat digunakan oleh agen-agen otonom secara real-time.
“Autonomy merupakan lompatan besar berikutnya bagi operasi dirgantara,”
kata Bernie Dunn, Penasihat Avathon dan mantan Presiden Boeing Middle East, Turki, dan Afrika. “Setelah bekerja dengan OEM dan maskapai di berbagai wilayah, saya melihat langsung bagaimana kompleksitas operasional dan kendala pasokan berdampak di seluruh dunia. Industri ini tidak hanya membutuhkan data yang lebih baik — tetapi sistem yang dapat bertindak berdasarkan data tersebut secara langsung. Platform Avathon menanamkan pengambilan keputusan di area paling penting — pemeliharaan, kualitas, dan pasokan — memberikan efisiensi dan ketahanan di setiap operasi, di mana pun di dunia.”
Didukung oleh Computational Knowledge Graph (CKG), Platform Autonomy Avathon menghubungkan data operasional di seluruh aset, tenaga kerja, dan proses. Sistem ini terus belajar dari masukan baru, memungkinkan agen-agen AI untuk menalar di seluruh siklus hidup — dari pembuatan, pemeliharaan, hingga keberlanjutan — sambil tetap transparan dan sepenuhnya dapat diaudit.
“Industri dirgantara adalah salah satu lingkungan operasional paling kompleks di dunia,” ujar Pervinder Johar, CEO Avathon.
“Misi kami adalah menghadirkan otonomi untuk operasi yang tidak boleh gagal — baik di lantai pabrik maupun di armada yang sedang beroperasi. Dengan menyatukan data dari manufaktur, pemeliharaan, dan pasokan, kami membantu industri mencapai kinerja yang lebih aman, cepat, dan efisien dalam skala besar.”
Autonomy for Aerospace Operations kini telah tersedia untuk OEM, MRO, dan operator komersial.
Kunjungi avathon untuk informasi lebih lanjut.
Share this post
